Ene dalam Kenangan

By Riki Rachman Permana - Friday, November 22, 2013




Ramadhan 2013

Nenek mulai merapihkan bajunya satu persatu. Tak terkecuali samping batik yang sering digunakannya, masih bagus-bagus, warnanya tak pudar karena biasanya beliau menggunakannya di acara tertentu saja. 

Siang itu nenek bilang, "nanti ini jatahnya keluarga di Tasik, kalau yang ini buat di Bandung, sajadah sama mukenah ditaro disini aja kan bisa dipake", kata nenek sembari memisahkan baju yang sudah disiapkan sebagai "jatah" bagi masing-masing keluarganya. 

"Orang Tasik kan jarang hubungi kita Nek, ngapain dikasih, males nganternya, mending buat disini aja", kata saya menyela percakapan siang itu. 

"teu meunang kitu atuh, geus aya bagianana (nggak boleh gitu, udah ada bagiannya masing-masing)", terang nenek menghardik ucapan saya. 

Saya anggap itu sebagai amanat yang diminta oleh Nenek di bulan Ramadhan tahun ini. 

Oktober 2013

Saya menyengaja pulang untuk berkumpul bersama keluarga di hari ulang tahun ke-23. Hampir empat tahun kebelakang, saya merayakan ulang tahun sendiri di Jakarta, terpisah dari keluarga karena sedang menempuh perkuliahan. Tahun ini sudah saya niatkan untuk pulang dan berkumpul di hari pergantian umur bersama keluarga, karena itu adalah kado yang saya inginkan. 

Nenek duduk di kursi dekat TV sembari menundukan kepalanya, di sampingnya sudah berdiri tabung oksigen ukuran 70kg. Kesehatan Ene – biasa kami memanggilnya, mendadak drop. Dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas, terlebih setelah beranjak dari kamar mandi untuk wudhu, nafasnya terengah-engah seperti orang normal yang habis berlari. 

20 Oktober 2013 saya bangun dengan perasaan gembira dan penuh syukur. Allah memberi saya kesempatan untuk hidup dan (semoga) bermanfaat bagi sekitar. Namun hari itu juga saya melihat Ene duduk tak berdaya, tidak ada perayaan apapun di rumah karena kami tidak biasa merayakan ulang tahun. Biasanya dulu ketika Ene sehat, ketika salah satu cucunya berulang tahun, Ene selalu membuatkan masakan kesukaan cucunya. Hari ini jangankan untuk memasak, untuk berdiri pun Ene membutuhkan bantuan dari orang-orang sekitarnya. 

Tak disangka Mamah membelikan saya kue tart sebagai hadiah ulang tahun. Doa saya hanya satu, semoga Allah memberikan kesembuhan untuk Ene. Selang beberapa menit kemudian, dada Ene terasa amat sesak, Papap memutuskan untuk membawa Ene ke rumah sakit jantung di Cirebon. Saya bergegas membantu segala persiapan. 

Sebelum pergi, saya duduk di samping Ene dan mengusap punggungnya. Dalam suaranya yang lirih, Ene mendoakan saya di hari kelahiran  agar hidup saya berkah & selalu diberikan kesehatan. Ene pun berpesan, jika ini pertemuan terakhir kita maka Ene minta didoakan agar tidak terlalu lama merasakan sakit ini dan mohon dimaafkan segala kesalahannya selama ini. 

November 2013
Malam itu (15 November) saya diminta Mamah & Papap untuk segera pulang karena kesehatan Ene semakin memburuk. Karena tidak berhasil mendapatkan kereta di Gambir, saya baru bisa pulang keesokan harinya. Segera setelah sampai di Stasiun Cirebon saya menuju RS Gunung Jati tempat Ene dirawat. Beberapa sanak keluarga terlihat menemani Ene sembari mengusap punggungnya. 

Sejak Ene sakit, Ene tidak bisa tidur terlentang, hampir 24 jam Ene menghabiskan harinya dengan duduk, pun ketika tertidur. Kadang saya merasa iba melihat Ene yang bahkan tidur pun harus duduk. Siang itu Ene minta dipulangkan dari rumah sakit setelah seminggu dirawat. Kami mengiyakan kemauan beliau. 

Perawatan pun kami lakukan di rumah, setiap harinya 2 tabung oksigen digunakan oleh Ene untuk membantunya bernafas, namun tetap Ene merasakan sesak meskipun telah dibantu oleh tabung. Beberapa sanak saudara rajin mengunjungi Ene siang dan malam untuk melihat perkembangannya. Ada sedikit kemarahan yang saya rasakan saat itu. Jadi kemampuan dokter di Indonesia cuma segini doang?! Gak ada yang bisa dilakukan supaya Ene sembuh? Apalah, yang penting bisa sembuh. Atau bawa ke pengobatan alternatif aja yang biasa nongol iklannya di TV, coba kita buktikan mana yang bisa menyembuhkan Ene. 

Nyatanya keluarga sudah pasrah, Ene pun sudah lelah menjalani serangkaian pengobatan. Setiap ba'da Maghrib, saya selalu membacakan surat Yaasin, Ar-rahman & Al-Waqiah di samping Ene sembari memegang punggung & kakinya. Sesekali Ene memanggil saya dengan panggilan sayang, "yayang", "ujang", "Aa" – khas panggilan urang Sunda. 

"Makan dulu atuh yayang"
"tidur sana A"
"Belum tidur jang?" 

Ene masih mengingat saya dalam beberapa momen ketika "sadar". Saya meminta izin pamit untuk kembali ke Jakarta, sebelum pulang saya bilang, "Ene sehat atuh, jangan sakit" dan Ene menjawab, "Iya Ene belum sembuh-sembuh, doain aja Aa, sing ati-ati di sana, jaga kesehatan". Itulah kali terakhir saya mendengar suara Ene. Sebelum pulang saya cium tangan Ene dan sesekali ku belai rambutnya yang terlihat semakin menipis. 

 
Rabu, 20 November 2013
Allah menjawab doa saya, doa kami sekeluarga. Allah mencabut rasa sakit dari tubuh Ene dan memanggilnya untuk berkumpul bersama sanak saudara yang telah tiada. 

Kini tidak ada lagi Ene yang akan menyambut saya ketika pulang ke rumah, yang akan membuatkanku capcay setiap pulang. Sejak kecil Ene lah orang yang mengasuhku. Ene paling tau masa kecilku hingga beranjak dewasa. Sudah saatnya aku mengembalikan Ene ke pangkuan Allah yang akan lebih menyayanginya di sana. Terima kasih ya Allah, karena telah mempertemukan saya dengan sosok perempuan yang menjaga & menyayangi saya hingga genap berusia 23 tahun. 

Dalam perjalanan kembali pulang ke Jakarta, aku bertanya dalam hati, 

"Sedang apa ya Ene saat ini di sana? Bagaimana keadaannya?" 

Ketika saya alihkan pandangan ke luar jendela, Allah menunjukan saya pemandangan senja yang sangat indah. Warna langit berubah teduh kemerahan. Saya tersenyum, mencoba memahami jawaban Allah atas pertanyaan barusan. 

Seketika saya tersadar bahwa saya belum sempat mengabadikan gambar langit senja sore itu. Rupanya Allah ingin saya memahami bahwa tidak semua tanda kebesaran-Nya perlu untuk diabadikan & di-update via social media, yang terpenting aku sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanku pada-Nya dengan cara yang misterius.

 

  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. Allah sayang kepada beliau,
    smg Ene diberikan tempat terbaik yaa dek.
    amin ya rabbal'alamin :-))
    mari berdo'a untuk beliau!
    karena do'a anak shaleh yang mampu menemani beliau di sana :-))
    amin ya rabbal'alamin

    ReplyDelete
  2. ASSALAMU’ALAIKUM
    Permisi Kepada Admin Dan Teman Yang On’line di Blog ini Sedikit Saya Ingin Berbagi Cerita Tentang Kisah Sukses Saya Jadi TKI Kontrak di Jepang.
    Perkenalkan Nama Saya Ridwan Topik Budiman Asal Dari Samarinda (Kal-tim). Disini saya akan bercerita kisah sukses yang menjadi kenyataan mimpi saya. KEGIATAN SEBELUM MENGIKUTI PROGRAM Seperti para pemuda umumnya dan dengan kondisi ekonomi orang tua saya yang pas-pasan saya ikut merasa prihatin dan menghendaki adanya perubahan ekonomi dalam keluarga saya. Saya lahir di salah satu kampung terpencil di kota Samarinda (kal-tim), dimana struktur tanah tempat kelahiran saya adalah pinggir laut dengan mata pencaharian masyarakat sekitar bagang dan empang , Pengorbanan keluarga yang selama mendidik membina dan membiayai hidup saya selama ini tak cukup hanya sekedar saya mengikuti jejak orang tua saya menjadi seorang nelayan, saya harus membuktikan kepada keluarga untuk menjadi yang terbaik, tetapi dimana dan bagaimana? Sisi lain saya tau saya hanya lulusan SLTA sedangkan lowongan pekerjaan hanya diperuntukan bagi lulusan Diploma dan Strata 1, Pada pertengahan tahun 2015 saya bertemu dengan seorang teman lama mantan TKI di jepang pertemuan saya di Jalan muara badak SAMARINDA kal-tim, Dia memperkenalkan saya dengan salah satu pejabat BNP2TKI PUSAT yang pernah membantu dia sewaktu di jakarta, Beliau adalah sekertaris utama di kantor BNP2TKI pusat jakarta, atas nama bpk DRS HERMONO, Alamat kantor beliau Jalan MT Haryono Kav 52, Pancoran, Jakarta Selatan 12770 kantor BNP2TKI pusat, Dan Teman Saya Memberikan No Kontak Hp Bpk Hermono di Nomor 0853-9845-2347, dan saya mencoba menghubungi tepat jam 5 sore, singkat cerita sayapun menyampaikan maksud tujuan saya, bahwa sudah lama saya mengimpikan bisa bekerja di japang. Beliau'pun menyampaikan siap membantu dengan bisa meluluskan dengan beberapa prosedur , saya rasa prosedur itu tidak terlalu membebani saya. Dari sinilah saya menyetujui nya, yang sangat membuat Aku bersyukur adalah bahwa saya diminta melengkapi berkas untuk saya kirim ke akun email beliau dan sayapun disuruh menyiapkan biaya pengurusan murni sebesar Rp. 22.500.000. Inilah puncak kebahagiaan saya yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri sakura japang. Akhirnya saya mendapat panggilan untuk ke jakarta untuk dibinah selama 2 minggu lamanya, saya hanya diajarkan DASAR berbahasa japang. Makna yang terkandung didalamnya sangat luar biasa dirasakan oleh saya, tanggung jawab, disiplin, berani dan sebagainya merubah total karakter saya yang dulu cengeng dan kekanak-kanakan, walau kadangkala saya masih belum begitu yakin apakah saya bisa berangkat Ke Jepang dengan baik, akhirnya saya mendapat Contrak kerja selama 3 tahun lamanya di bidang industri. Rasa pasrah dan khawatir menghinggapi saya saat itu, seorang anak kampung berangkat ke Jepang dengan menggunakan pesawat terbang yang sebelum belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jangankan naik di atas pesawat melihat dari dekat’pun saya belum pernah sama sekali, Di Bandara Soekarno Hatta kami di temani oleh petugas Depnakertrans dan IMM Japan untuk melepas keberangkatan kami, rasa haru dan air mata sedih berlinang di pipih saya pada saat di izinkan prtugas untuk pamit kepada keluarga yang kebetulan saya diantar oleh paman saya, kami saling berpelukan dan mohon salam dan restu dari orang tua dan keluarga. MASA MENGIKUTI PROGRAM KEBERANGKATAN DI JEPANG Setibanya di NARITA AIRPORT Jepang, kami di jemput oleh petugas IMM Japan yang ada di sana, dan kami diantar ke Training Centre Yatsuka Saitama-ken untuk mengikuti pembekalan sebelum di lepas ke perusahaan penerima magang di Jepang. jika anda ingin seperti saya anda bisa mencoba untuk menberani’kan diri menhubungi Bpk SEKERTARIS UTAMA BNP2TKI, BPK DRS HERMONO. Ini No TLP/HP Beliau: 0853-9845-2347 siapa tahu beliau masih bisa membantu anda untuk mewujudkan impian anda menjadi sebuah kenyataan. TERIMA KASIH

    ReplyDelete
  3. WhatsApp 085 244 015 689
    Terimakasih banyak AKI karna melalui jalan togel ini saya sekarang sudah bisa melunasi semua hutang2 orang tua saya bahkan saya juga sudah punya warung makan sendiri hi itu semua berkat bantuan AKI JAYA yang telah membarikan angka 4D nya menang 275 jt kepada saya dan ALHAMDULILLAH berhasil,kini saya sangat bangga pada diri saya sendiri karna melalui jalan togel ini saya sudah bisa membahagiakan orang tua saya..jika anda ingin sukses seperti saya hubungi no hp O85-244-015-689 AKI JAYA,angka ritual AKI JAYA meman selalu tepat dan terbukti..silahkan anda buktikan sendiri. 2D 3D 4D 5D 6D

    ReplyDelete

Halo, gimana pendapatmu setelah membaca tulisan di atas?