By Riki Rachman Permana - Thursday, March 09, 2017
Menempuh waktu sekitar satu jam perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, membawa saya pada pengalaman yang menantang untuk menjelajahi hutan batu kapur (karst) Rammang-Rammang di desa Salenrang Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros - Sulawesi Selatan.
Konon, hamparan gunung karst di Rammang-Rammang adalah yang terluas di dunia setelah Yunnan - China. Obyek wisata ini baru mulai dikenal masyarakat luas sekitar dua-tiga tahun belakangan karena promosi aktif para travellers nusantara yang menggunakan media sosial untuk mempublikasikannya.
By Riki Rachman Permana - Monday, January 02, 2017
Selamat datang 2017! Biasanya kita akan membuat berbagai resolusi di tahun baru sembari
mengingat-ingat momen apa yang sudah dilewatkan di tahun sebelumnya. Resolusi diet? Ah sudahlah!
Merasa bahwa kamera sudah jadi kebutuhan? Banyak momen yang rasanya ingin diabadikan dengan kamera? Ada yang berencana membeli kamera
di tahun 2017? Kalau iya, saya semangat banget buat kasih masukan soal
serba-serbi pilih kamera! Buat saya benda kecil yang namanya kamera itu spesial
banget, karena bisa mengabadikan momen dalam hidup kita yang mungkin gak
akan terulang lagi.
Olympus OM-D EM-5
Beberapa hari yang lalu, ada
beberapa kawan yang nge-chat buat nanya pendapat saya soal rekomendasi kamera
mirrorless. Wah langsung semangat dong buat ngeracunin temen-temen saya buat
punya kamera hehe.
Saya coba jelaskan satu per satu
ya soal kamera mirrorless dari pengalaman saya saja. Kalau mau dapat penjelasan
lengkap, detail dan menyeluruh dari sudut pandang fotografer, teman-teman bisa
cek beberapa tulisan fotografer soal kamera mirrorless di link berikut ini:
Rooftop Edu Hostel Jogja. Gambar diambil dari website Edu Hostel.
Merencanakan liburan yang murah meriah itu gampang-gampang
susah. Kuncinya adalah banyak melakukan riset supaya kita bisa dapat berbagai insight yang berguna ketika proses
penyusunan anggaran. Hari gini semales-malesnya, kita bisa buka google untuk
menanyakan banyak hal. Ada berbagai ulasan dari macam-macam situs hingga
tips dari para blogger yang memberikan rekomendasi destinasi wisata, penginapan
hingga aktivitas di sebuah kota tujuan liburan. Setidaknya ada beberapa hal
yang bisa membuat budget liburan kita gak membengkak, kalau menurut saya ada di
pemilihan transportasi, penginapan dan akomodasi selama berlibur. Ketiga poin
itu memang jadi tugas bagi traveler dengan budget backpacker untuk memutar otak.
Kebetulan beberapa bulan lalu saya berkesempatan
menghabiskan 7 hari untuk berlibur di Jogja. Salah satu destinasi wisata
favorit bukan cuma bagi warga Indonesia tapi juga wisatawan mancanegara. 7 hari
liburan di Jogja meskipun terkenal biaya hidup disana lebih murah dari di
Jakarta, tapi kalau gak bisa menyiasatinya pasti budget liburannya setara
dengan pergi liburan ke Bali. Poin utama yang saya pikirkan tentu soal
penginapan. Kalau transportasi dan akomodasi sepertinya banyak banget
alternatif yang tersedia di Jogja. Oh ya kebetulan saya ke Jogja sendirian, jadi ya memang berasa sekali pengeluarannya. Kalau rame-rame kan bisa sharing hehe.
Beruntungnya setelah mencoba mencari referensi via internet,
seorang teman yang pernah berkunjung ke Jogja beberapa waktu sebelumnya lalu menyarankan
agar saya mencoba menginap di Edu Hostel yang tarif per malamnya cuma Rp 80.000/bed/person
aja! Langsung mikir dong, harga semurah itu yang jauh dari harga standar hasil
googling gimana kondisi kasurnya? Jangan-jangan kamar mandi di dalam tapi
kasurnya di luar hehe...
Rate dan tipe kamar di Edu Hostel
Tapi langsung aja saya cek website-nya www.eduhostels.com cukup informatif, dan
pilihan pertama yang saya lakukan adalah mengecek tarif hotel per malam dan
bener dong itu cuma Rp 80.000 aja! Kok bisa murah banget sih? Iya jadi
ceritanya Edu Hostel ini merupakan penginapan dengan sistem shared room
(berbagi ruangan). Jadi kita sharing kamar dengan turis lain. Dalam satu kamar,
terdapat 6 kasur (3 kasur tingkat). Kasarnya nih, harga tiap kasur itu ya Rp.
80.000 aja kak!
Terus gimana review-nya nih? Oke selama satu minggu saya di
Jogja berikut penilaian saya untuk Edu Hostel.
Saya
harus akui kalau pertama kali bikin paspor di tahun 2010 lalu adalah menggunakan
jasa “kenalan” orang tua saya dengan petugas Imigrasi Cirebon hehe, jadi saya hanya tahu datang (gak perlu antri)-foto-scan sidik jari-interview langsung deh
sorenya jadi. Sebetulnya cerita ini bukan hal yang patut dibanggakan.
Gak
kerasa meskipun dalam periode 6 tahun terakhir saya jarang pakai paspor buat
jalan ke luar negeri, Januari 2016 adalah batas umur paspor saya. Mulai
terbesit pikiran nakal untuk pulang ke Cirebon dan minta tolong ortu buat
bantuin perpanjang paspor, tapi akhirnya saya urungkan niat garong ini karena
mikir masa perpanjang paspor aja gak bisa? Kamu lakik?
Meskipun
Ayah saya bilang, “udah perpanjang di Cirebon aja sehari jadi” rasanya ada
kebanggaan ketika berani menolak, “Gak ah, aku urus di Jakarta aja sendiri”
(sok mandiri).
Kepikiran
juga sih buat pake calo, iseng ah googling “jasa perpanjangan paspor”.
Keluarlah banyak “biro” yang menawarkan jasa ini, saya coba telepon salah
satunya untuk menanyakan rate paket kilat 1 hari jadi dan harganya cukup
fantastis yaitu Rp 1.500.000, gak rela! *anak kost mode: ON*
Hal
pertama yang saya lakukan ketika mengurus perpanjang paspor adalah mengumpulkan
informasi sebanyak mungkin dari internet mengenai prosedur, tips dan kendala
yang dihadapi oleh beberapa orang yang mau share pengalamannya.
Referensi
pertama saya adalah artikel yang ditulis sama Kakak Bloger cantik masa kini Marischka Pruedence
yang berbagi pengalaman mengurus perpanjangan paspor di kantor Imigrasi Jakarta
Barat.
Riki Rachman Permana is a full time lover of Indonesia. This blog is a personal space to share his thoughts & memories during traveling. Enjoy the blog!